Jangan Takut, dan Ingatlah Tuhan

Nehemia 4-6

19,208 views

Sekitar tahun 444 SM, ketika Nehemia kembali ke tanah Yehuda dan mulai membangun kembali tembok dan gerbang Yerusalem, orang-orang bukan Yahudi, termasuk Sanbalat dan Tobia, merasa iri dan berencana untuk menghalangi pekerjaan tersebut. Sanbalat mengolok-olok orang-orang Yahudi, dan di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria, ia berkata:

“Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?”

Tobia, tangan kanannya, yangada di dekatnya, juga berkata:

“Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.”

Lalu Nehemia dan orang Israel berdoa dengan lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan dan mengabdikan diri mereka untuk membangun kembali bait suci dengan satu hati.

Melihat orang-orang Yahudi bekerja dengan sepenuh hati dan tenaga dalam membangun kembali bait suci, Sanbalat, Tobia, dan kelompok mereka pun menghalangi pekerjaan itu dengan yang lebih agresif, termasuk menyuap nabi untuk memfitnah Nehemia. Ketika semangat dan keinginan rakyat untuk membangun tembok mulai surut akibat gangguan yang tiada henti dari para musuh, Nehemia membangkitkan kembali semangat mereka dan memberi dorongan keberanian.

“Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu dan rumahmu!”

Bangsa itu menyadari bahwa Tuhan menyertai mereka, dan sejak hari itu mereka mulai bekerja, membawa bahan di satu tangan dan memegang senjata di tangan lainnya untuk berjaga-jaga terhadap musuh-musuh mereka. Ada juga para peniup sangkakala yang ditempatkan di atas tembok-tembok besar dan kokoh; mereka selalu bersama para pekerja, agar mereka dapat segera berkumpul jika terjadi keadaan darurat dan mempertahankan diri dari musuh-musuh mereka. Mereka bahkan tidak menanggalkan pakaian mereka di malam hari, dan mereka juga tidak meletakkan senjata mereka bahkan ketika mereka pergi mengambil air. Demikianlah mereka terus membangun kembali bait suci di Yerusalem, dan pembangunan itu selesai dalam waktu 12 tahun.

Di mana pun pekerjaan Injil berlangsung, selalu ada rintangan dari musuh-musuh kita. Ketika mereka memfitnah dan mengejek kita, kita mungkin merasa takut. Namun, bukan musuh kita yang harus kita takuti, melainkan Tuhan Yang Mahakuasa yang menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya.

Di zaman ini, ketika kita sedang mendekati penyelesaian bait suci rohani, marilah kita memperbarui iman kita. Kita harus lebih bersungguh-sungguh dalam membangun bait suci, dengan selalu mengandalkan Tuhan melalui doa dan dipersenjatai dengan pedang firman Tuhan. Sebagai prajurit Tuhan, marilah kita mengabdikan diri sepenuhnya untuk misi sebagai penjaga rohani dan menyelesaikan pembangunan bait suci sorgawi.