Bersyukur kepada Tuhan!

Setelah kematian Edison, lampu di seluruh Amerika dimatikan selama satu menit untuk memperingati penemu besar sepanjang masa. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan syukur atas bola lampu yang telah ia temukan.
Lalu, pernahkah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segala ciptaan-Nya yang berjalan dengan teratur? Menurut skenario simulasi yang dibuat oleh sebuah saluran dokumenter profesional, bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan sekitar 1.600 kilometer per jam. Jika bumi tiba-tiba berhenti berputar sepenuhnya, siang akan berlangsung selama enam bulan, dan malam pun akan berlangsung selama enam bulan. Pada siang hari, ketika sinar matahari yang terik menyinari permukaan bumi, suhu akan naik hingga 55℃, sedangkan pada malam hari suhu akan turun hingga -55℃. Dengan kata lain, jika bumi berhenti bergerak bahkan hanya sesaat, dampaknya tidak hanya sebatas ketidaknyamanan. Kelangsungan hidup umat manusia pun akan sangat sulit, bahkan mustahil.
Sering kali kita melupakan hal-hal yang tidak terlihat. Namun, kita harus bersyukur atas bumi yang bergerak tanpa henti dan tanpa kesalahan setiap hari. Hari demi hari, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta, mengendalikan hidup dan mati umat manusia, dan bekerja tanpa henti hingga hari ini demi keselamatan jiwa kita.
“Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mzm 136:8-9