WATV.org is provided in English. Would you like to change to English?

Hari Sabat menurut Alkitab adalah hari Sabtu. Lalu, mengapa kebanyakan gereja beribadah pada hari Minggu?

153 Jumlah tampilan
FacebookTwitterEmailLineKakaoSMS

Sudah jelas bahwa Sabat menurut Alkitab adalah hari Sabtu, hari ketujuh dalam satu minggu. Gereja awal menguduskan hari Sabat menurut ajaran Alkitab (Kis 17:2; 18:4).

Lalu, mengapa kebanyakan gereja sekarang ini beribadah pada hari Minggu? Mari mencari tahu alasannya.

Hari Minggu dan penyembahan dewa matahari Romawi

Gereja Kristen awal, yang dimulai di Yerusalem, makmur dan menyebar ke Asia kecil dekat Israel sampai ke Makedonia dan bahkan ke Roma. Dalam proses ini, ada hal yang tidak terhindarkan—itulah konflik dengan kepercayaan Romawi.

Keluarga kerajaan Romawi membenci orang Yahudi yang percaya pada Yudaisme. Orang Romawi percaya pada banyak dewa, sehingga akibat dari pandangan politeistik mereka tentang agama, membuat mereka sulit memahami orang Yahudi yang percaya hanya kepada satu-satunya Tuhan—Yehovah, dan orang Yahudi enggan mengikuti perintah orang Romawi dengan menggunakan kepercayaan mereka sebagai alasan.

Bagi orang Romawi, Kekristenan dianggap sebagai sebuah sekte Yudaisme karena merupakan kepercayaan monoteistik; Orang Kristen percaya pada Yesus sebagai Juruselamat, dan memelihara hari ketujuh sebagai hari Sabat seperti yang orang Yahudi lakukan. Jadi, orang-orang dari Gereja di Roma tidak dapat menghindar dari penganiayaan orang Romawi dan mereka berusaha untuk memberitahukan mereka perbedaan antara Kekristenan dan Yudaisme. Dalam proses ini, mereka mulai menerima hari Minggu yang dipelihara oleh orang Romawi sebagai hari ibadah.

Hari Minggu adalah hari yang ditetapkan untuk menyembah Mithra, dewa matahari. Mithraisme yang merupakan sebuah turunan dari agama orang-orang Persia Zoroastrianisme telah diperkenalkan ke Roma sekitar abad ke-1 SM. Mithra dijelaskan sebagai “dewa tak terkalahkan” atau “dewa kemudaan abadi,” dan Mithraisme kebanyakkan dianut oleh prajurit-prajurit Romawi. Pada saat Kekristenan menyebar di Roma, dewa matahari Mithra telah ditinggikan menjadi dewa pelindung kaisar dan kekaisaran, dan Mithraisme telah dianggap sebagai kepercayaan yang paling utama dan berpengaruh di Roma. Gereja Roma mencoba untuk menghindar dari penganiayaan orang Romawi dengan menerima hari Minggu, yang dipelihara untuk menyembah Mithra, sebagai hari ibadah.

Konstantinus dan Hukum hari Minggu

Sekitar abad ke-2, Gereja Roma dan beberapa gereja di bawah pengaruhnya menerima hari Minggu sebagai hari ibadah mereka, tetapi gereja-gereja di Timur yang berpusat di Yerusalem tetap memelihara hari Sabtu—hari ketujuh—sebagai hari Sabat menurut ajaran Alkitab.

Namun, karena Konstantinus mengeluarkan Dekrit Milan pada tahun 313 M yang menyatakan kesetaraan semua agama, hal ini menjadi titik balik utama bagi Kekristenan.

Setelah Konstantinus mengeluarkan Dekrit Milan, ia mencetuskan kebijakan pro-Kristen yang memberikan hak khusus terhadap kependetaan dan mendukung gereja secara finansial. Namun, hal itu tidak berarti bahwa ia sepenuhnya beralih ke Kekristenan. Ia mengaitkan dewa kesukaannya, Mithra, dengan Kristus dan tetap mempertahankan gelar imam besar pagan “Pontifex Maximus” sampai hari kematiannya. Pada akhirnya, ia memilih Kekristenan demi tujuan politiknya untuk menyatukan seluruh kekaisaran. Untuk mewujudkan ide-ide tersebut, Konstantinus kemudian mengeluarkan hukum yang mewajibkan masyarakat istirahat sepenuhnya dari pekerjaan pada hari Minggu.

Inilah bagaimana hari penyembahan dewa matahari diubah menjadi hari ibadah Kristen.

Hukum hari Minggu Konstantinus, yang diberlakukan pada tahun 321 M, menguatkan posisi Gereja Roma. Sejak Konstantinus memaksa semua orang yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi untuk beristirahat pada hari Minggu dengan kekuasaannya, gereja-gereja Timur yang terus memelihara hari Sabat bahkan tidak mempunyai pilihan selain mengikuti Gereja Roma. Tentu saja, mereka yang ingin mempertahankan kebenaran memelihara hari Sabat, bersembunyi di padang gurun dan gunung-gunung, tapi mustahil untuk mencegah penyebaran ibadah hari Minggu ke semua gereja. Inilah asal mula ibadah hari Minggu dan masih terus berlangsung hingga saat ini.

Namun, meskipun banyak gereja memelihara hari Minggu, hari penyembahan Tuhan yang benar tidak dapat berubah menjadi hari Minggu—hari penyembahan matahari. Perintah Tuhan tidak boleh diubah oleh manusia untuk alasan apa pun.

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”Why 22:18-19

Tuhan datang ke bumi ini menurut nubuat Alkitab dan menyatakan kebenaran yang tersembunyi dalam kegelapan kepada seluruh dunia dan membiarkan kita mengetahui hari ibadah yang benar yang harus kita pelihara. Hari Sabat yang dikuduskan Gereja Tuhan pada hari Sabtu, hari ketujuh, merupakan kebenaran murni dari gereja awal yang dipulihkan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua.