Hikmat Salomo dalam Memberikan Keputusan

1 Raja-raja 3:16-28

15,117 views

Dua orang perempuan datang menghadap Raja Salomo untuk diadili. Masing-masing perempuan mengaku sebagai ibu dari seorang anak.

“Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku.Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan.”

“Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.”

“Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.”

Raja Salomo, yang telah memperhatikan mereka bertengkar, memberikan perintah yang tak terduga.

Yang seorang berkata: “Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati.” Yang lain berkata: “Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Lalu ia berkata: “Ambilkan aku pedang. Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan setengah lagi kepada yang lain.”

Salah satu perempuan itu senang dengan perintah raja.

“Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!”

Namun, perempuan yang satunya dipenuhi belas kasihan kepada anaknya dan berkata kepada raja,

“Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.”

Lalu raja memberikan keputusannya.

“Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.”

Bayi itu pun digendong kembali dengan selamat ke pelukan ibunya.

Seorang ibu selalu mengutamakan nyawa dan keselamatan anaknya dalam situasi apa pun.

Ibu sejati tidak tega membiarkan anaknya mati, dan ia memilih rasa sakit berpisah darinya demi menyelamatkan nyawanya. Hati seorang ibu sejati mencerminkan dengan tepat hati Ibu Sorgawi kita yang tidak punya pilihan selain membiarkan anak-anak-Nya turun ke bumi ini karena mereka telah berbuat dosa di sorga, yang pantas menerima hukuman kekal di neraka.

Ada banyak jiwa yang berada dalam bahaya kematian, ditawan oleh Babel—ibu para pelacur dan kekejian bumi (Why 17:5). Satu-satunya cara bagi mereka untuk hidup adalah bertemu dengan Ibu sejati yang memberi mereka kehidupan. Marilah kita memberitakan Ibu Sorgawi yang telah datang ke bumi ini untuk memulihkan kemuliaan sorga bagi kita, anak-anak-Nya, dan memberitakan jalan kehidupan kepada semua orang.