WATV.org is provided in English. Would you like to change to English?

Dunia yang Tak Terlihat dan Iman Sejati

712 Jumlah tampilan

Iman sangat penting untuk keselamatan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa orang tanpa iman tidak bisa diselamatkan. Itu karena hanya mereka yang memiliki iman dapat menaati firman Tuhan serta mematuhi perintah-perintah dan ketetapan yang telah ditetapkan Tuhan untuk keselamatan kita.

Tuhan menciptakan dunia yang terlihat dan tidak terlihat. Dunia iman juga tidak terlihat, jadi tidak ada cara untuk mengetahui apakah iman kita besar atau kecil dalam masa-masa yang biasa. Lalu, kapan dan bagaimana iman kita akan dinyatakan serta iman seperti apakah yang harus kita miliki? Mari kita temukan melalui pengajaran Alkitab.

Ujilah dan periksa diri Anda untuk melihat apakah anda berada dalam iman

Di masa sekolah, setiap orang mungkin telah melakukan percobaan di kelas sains untuk menguji apakah suatu zat bersifat asam atau basa. Dengan mata telanjang, kita tidak dapat memastikan apakah zat itu bersifat asam atau basa. Namun, saat anda mencelupkan kertas lakmus ke dalam larutan, warnanya akan berubah, sehingga kita dapat melihat apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa.

Iman juga tidak terlihat. Jadi bagaimana Tuhan dapat membedakan iman kita masing-masing? Kita juga berada dalam suatu situasi pengujian, sama seperti kertas lakmus dicelupkan ke dalam sebuah larutan. Dalam situasi tertentu, tingkat atau ukuran dari keimanan setiap orang akan ditunjukkan. Mereka yang memiliki iman bahwa Tuhan selalu bersama dengan mereka tidak akan goyah dalam keadaan apa pun. Di sisi lain, mereka yang hanya mengikuti orang-orang di sekitar mereka pasti akan kehabisan iman suatu hari nanti.

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat… 2 Kor 13:5-7

Alkitab menyarankan kita untuk menguji dan memeriksa diri kita sendiri setiap hari untuk melihat apakah kita ada dalam iman. Jika kita ditinggalkan oleh Tuhan sebagai orang yang tidak beriman, kita juga dikeluarkan dari keselamatan. Kita harus selalu menguji diri kita untuk melihat apakah kita bertindak dalam iman pada hari ini dan dengan jelas membuktikan apakah kita sudah memiliki iman. Alkitab menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang tidak datang dari iman adalah dosa di mata Tuhan (Rm 14:23).

Jika kita percaya bahwa Tuhan berdiam di dalam kita tetapi iman kita berubah atau menghilang dalam berbagai keadaan, itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak berdiam di dalam kita. Tidak peduli seperti apa situasi kita, kita harus selalu melangkah di jalan perjanjian Tuhan—jalan perjanjian yang Tuhan berikan kepada kita.

Situasi di mana iman dinyatakan

Kolam-kolam membeku di tengah musim dingin. Terdapat batu, potongan kecil besi, serpihan kayu, dan dedaunan pada kolam yang membeku. Dalam kondisi ini, kita tidak dapat membedakan manakah yang mengapung dan mana yang tenggelam dalam air. Namun, ketika musim semi tiba dan es meleleh dalam suhu yang hangat, sifat asli dari bahannya terungkap. Bebatuan dan potongan besi tenggelam dalam air, sementara dedaunan dan serpihan kayu mengapung di atas air.

Hal-hal di dunia rohani menyatakan identitas mereka ketika situasi tertentu datang. Itulah mengapa Yesus memberikan kita pengajaran seperti berikut:

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Mat 7:24-27

Pada situasi biasa, rumah yang dibangun di atas pasir dan rumah yang dibangun di atas batu terlihat kuat. Kita membangun rumah-rumah iman kita, dan kita tidak dapat mengetahui rumah siapa yang dibangun dengan benar hingga situasi dari luar terjadi. Namun, ketika kita dihadapkan pada berbagai faktor lingkungan—ketika hujan turun, arus air meningkat, dan angin bertiup, maka iman kita terungkap—entah rumah iman kita didirikan di atas batu sehingga dapat berdiri teguh atau di atas pasir yang akan runtuh.

Tuhan memberikan kita berbagai situasi di mana semua hal-hal yang tak kasat mata yang kita miliki dapat diungkapkan. Itulah mengapa Tuhan mengatakan kepada kita untuk selalu menguji dan memeriksa diri kita sendiri untuk melihat apakah kita berada di dalam iman.

Selalu periksalah diri anda untuk melihat siapakah yang membantu dan menuntun anda dan apakah anda berdiri teguh dalam iman yang diberikan Bapa dan Ibu kepada anda. Tidak ada alasan bagi kita untuk hidup dalam iman kecuali kita memiliki iman yang benar di dalam Tuhan. Kita datang ke gereja tidak hanya untuk menghadiri kebaktian dan berkumpul satu sama lain. Alasan kita menyembah dan mempelajari firman Tuhan setiap hari Sabat adalah agar pada akhirnya dapat memiliki iman dan melakukan apa yang Tuhan katakan, sehingga kita dapat pergi ke Kerajaan Sorga yang kekal.

Tuhan menguji iman bangsa Israel di padang gurun

Tuhan memberikan kita situasi-situasi di mana kita dapat melihat dunia yang tidak terlihat. Perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun melalui padang gurun merupakan suatu contoh yang baik. Mereka telah hidup sebagai budak di Mesir selama 400 tahun, di mana mereka menyaksikan kekuatan Tuhan ketika Dia menjatuhkan kesepuluh tulah di atas Mesir dan mereka juga melihat Firaun raja Mesir, yang memegang kekuasaan tertinggi, menyerah pada kekuatan Paskah. Selain itu, mereka mengalami kekuatan Tuhan yang luar biasa yang membelah Laut Merah sehingga mereka dapat menyeberanginya seperti di atas tanah yang kering dan benar-benar menghancurkan pasukan Mesir yang telah mengejar mereka. Setelah mengalami sendiri kekuatan Tuhan yang tidak dapat disangkal, mereka memiliki iman pada Tuhan, yang menuntun mereka melalui waktu dan sejarah, dan menuju ke padang gurun.

Namun, tempat itu benar-benar tandus. Di padang gurun, mereka tidak lagi ditindas oleh Firaun dan dipaksa bekerja keras di bawah pengawasan mandor yang kejam, tetapi tidak ada makanan untuk dimakan dan air untuk diminum. Di padang gurun tanpa makanan dan air yang diperlukan untuk bertahan hidup, mereka kehabisan makanan yang mereka bawa bersama mereka dan perjalanan mereka memakan waktu lebih lama. Ketika mereka keluar dari Mesir, mereka berpikir bahwa akan memakan waktu sekitar satu bulan bagi mereka untuk tiba di Kanaan. Akan tetapi, ketika mereka menghadapi situasi-situasi yang baru, pikiran dan sikap mereka berubah sepenuhnya.

Mereka telah banyak menyaksikan kekuatan Tuhan dan mengaku memiliki iman. Namun sejak saat itu, mereka mulai bersungut-sungut dan mengeluh, terganggu oleh orang-orang di sekitar mereka. Dalam situasi yang baik, mereka semua tampaknya memiliki iman, tetapi di dalam lingkungan padang gurun mereka kehabisan iman, melupakan segalanya—kekuatan dan kekuasaan Tuhan, janji-janji-Nya, dll.

Kita harus mengingat pelajaran dari perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun. Perjalanan mereka selama 40 tahun melewati padang gurun bukan hanya suatu peristiwa sejarah yang berlangsung pada 3.500 tahun yang lalu, tetapi merupakan gambaran dan bayangan yang menunjukkan jalan keimanan yang harus kita jalani. Melalui Alkitab, marilah kita membandingkan iman yang kita miliki saat ini dengan iman mereka serta menemukan perbedaan di antaranya.

“Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. Sebab, TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik,… Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.” Ul 8:1-10

Firman dalam Ulangan 8 tidak hanya diberikan kepada bangsa Israel pada saat itu. Melalui kejadian yang terjadi pada bangsa Israel, Tuhan mengungkapkan kehendak-Nya kepada semua orang di dunia, seperti yang dikatakan-Nya, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang” (Mrk 13:37).

Tuhan memeriksa bangsa Israel dalam berbagai situasi selama 40 tahun perjalanan yang mereka lakukan melewati padang gurun. Dia membuat mereka lapar dan haus, bertarung melawan bangsa-bangsa kafir, dan membiarkan mereka dicobai dalam penyembahan berhala. Itu dikarenakan Dia ingin membawa mereka ke tanah Kanaan yang dipenuhi dengan susu dan madu pada akhirnya, dengan menguji dan memurnikan iman mereka.

Namun, bangsa Israel bersungut-sungut kapan pun mereka berada di dalam suatu situasi yang sulit; mereka memuji Tuhan hanya dalam situasi yang baik. Tuhan hanya mendengarkan apa pun yang mereka katakan. Dia menemukan apa yang ada di dalam hati mereka—pola pikir seperti apa yang mereka miliki terhadap-Nya.

Ketika mereka dihadapkan pada lingkungan luar, iman mereka segera terungkap—apakah mereka telah membangun rumah imannya di atas batu atau pasir. Tuhan tidak mengakui mereka sebagai orang-orang yang memiliki iman. Karena itulah Alkitab mengatakan bahwa mereka tidak dapat memasuki tanah Kanaan karena ketidakpercayaan mereka (Ibr 3:7-19).

Iman Yosua dan Kaleb yang tidak tergoyahkan dalam setiap keadaan

Hanya mereka yang memiliki imanlah yang layak masuk ke tanah Kanaan. Setelah zaman Keluaran, Musa melakukan perintah Tuhan dengan mengirim dua belas pengintai untuk mengintai tanah Kanaan. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dari setiap suku Israel, satu orang dari setiap suku. Namun, saat mereka kembali dari pengintaian, sepuluh orang dari mereka jatuh dalam logika situasi. Mereka melaporkan hal yang buruk mengenai Kanaan, berkata bahwa mereka pergi ke tanah di mana kota-kotanya berkubu dan penduduknya raksasa sehingga tidak dapat menyerang mereka. Tuhan membuat segala situasi itu untuk menguji iman mereka, tetapi ketika bangsa Israel mendengar laporan buruk dari pengintai-pengintai, mereka bersungut-sungut kepada Musa dan kepada Tuhan, kehilangan iman mereka dan menjadi frustasi.

Hanya Yosua dan Kaleb yang mencoba untuk menentramkan bangsa itu, dengan berkata “Tuhan mereka telah meninggalkan mereka, tetapi Tuhan kita yang Maha Kuasa bersama kita. Kita akan menelan mereka.” Oleh karena itu orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas yang telah melihat kekuatan dan keajaiban Tuhan ketika mereka keluar dari Mesir, tidak ada di antara mereka yang diizinkan untuk masuk ke Kanaan, kecuali Yosua dan Kaleb.

Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: “Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!” Bil 14:26-30

Jatuh dalam logika situasi berarti kehilangan Tuhan. Namun, Yosua dan Kaleb tidak pernah kehilangan Tuhan, tetapi selalu berjalan bersama-Nya. Mereka percaya bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya, akan dengan mudah menyelesaikan segala perkara di bumi yang hanyalah setitik pasir di neraca. Di sini kita dapat melihat bahwa mereka memiliki iman yang besar. Mereka selalu berpikir tentang Tuhan dan tidak pernah melupakan bahwa Tuhan sedang menuntun mereka. Oleh karena mereka memiliki iman mutlak yang sedemikian dalam Tuhan, mereka menerima janji Tuhan untuk mengizinkan mereka masuk ke tanah Kanaan.

Sekarang, kita sedang berada dalam perjalanan iman di padang gurun rohani dan Tuhan menguji kita untuk melihat apakah kita memiliki cukup iman untuk masuk ke Kanaan sorgawi yang berlimpah-limpah dengan susu dan madu. Dalam situasi di mana Tuhan merendahkan dan menguji kita, iman kita dinyatakan sepenuhnya—apakah dibangun di batu atau pasir. Lalu akhirnya Tuhan menuntun kita ke dunia kemuliaan di mana kita hanya dapat memuji-Nya. Sebagai umat Sion, marilah kita mengikuti Tuhan yang mengasihi kita secara diam-diam dan menuntun kita ke jalan hidup sampai akhir, tanpa melupakan pelajaran-pelajaran dari perjalanan bangsa Israel di padang gurun sehingga kita dapat masuk ke Kerajaan Sorga yang kekal.

Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan

Sampai kita kembali ke rumah sorgawi kita yang kekal, iman kita akan diuji dalam berbagai macam situasi. Kapan pun itu terjadi, tetaplah memandang Tuhan seperti yang dilakukan oleh Yosua dan Kaleb. Dengan melihat kembali apa yang telah terjadi di padang gurun selama empat puluh tahun, dapat membantu kita melihat iman seperti apakah yang membuat kita dapat memasuki Kanaan sorgawi.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibr 11:1-6

Alkitab mengatakan bahwa tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Tuhan. Ketika Yesus menyembuhkan orang buta dan orang sakit yang datang kepada-Nya, Dia merasa senang dengan iman mereka, dengan berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:20-30).

Tuhan pasti akan merasa sangat cemas jika melihat kita jatuh ke dalam logika situasi dan melupakan-Nya, meskipun telah mempelajari firman-Nya setiap hari, berdoa dengan rajin, dan memelihara hukum-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh kehilangan rumah sorgawi kita atau berpaling darinya karena situasi kita sekarang. Kita harus maju ke arah sorga, sambil percaya dengan yakin bahwa Tuhan selalu bersama dengan kita dan membantu kita.

3.500 tahun yang lalu, Tuhan menjatuhkan tulah-tulah di atas tanah Mesir, dan membiarkan semua tulah itu lewat dari bangsa Israel yang tinggal di sana. Tuhan yang telah mendirikan Sion dan tinggal bersama kita di Sion adalah Bapa dan Ibu kita, dan Mereka menuntun kita ke Kerajaan Sorga yang kekal. Saya dengan sungguh-sungguh meminta kalian semua, anak-anak Tuhan, supaya dapat menjaga iman sampai akhir dan memberikan penghiburan dan kedamaian yang sejati dari Tuhan kepada banyak orang yang sedang gemetar ketakutan dalam berbagai situasi yang mereka hadapi.