Paskah dan Kebenaran yang Membawa Keselamatan

42,851 views

Saat ini, manusia telah meninggalkan firman Tuhan dan akibatnya, dunia ini ditimpa malapetaka dan menderita kehausan rohani (Am 8:11; Yer 44:23). Mereka menyangkal kebenaran Paskah perjanjian baru dan berkata, “Paskah tidak berkaitan dengan keselamatan kita. Kita tidak perlu merayakannya.”

Dua ribu tahun yang lalu, Yesus menegur orang Farisi dan ahli-ahli Taurat atas kemunafikan mereka, dan berkata bahwa mereka tidak diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga. Bahkan sampai sekarang, masih ada orang yang menuntut bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tanpa memahami kehendak-Nya dengan benar. Seperti yang telah dikatakan di dalam Alkitab bahwa umat-Nya binasa karena tidak mengenal Tuhan, mereka mau tidak mau akan berjalan menuju kebinasaan jika mereka tidak mengenal dan menaati firman Tuhan (Hos 4:6; Yes 9:15; Mat 23).

Paskah, yaitu kebenaran yang membawa keselamatan, bersinar lebih terang di zaman yang penuh dengan malapetaka. Tuhan mengajarkan bahwa Paskah adalah ketetapan abadi yang harus diberitakan kepada generasi-generasi yang akan datang. Melalui Alkitab, mari kita memahami janji keselamatan Tuhan yang mutlak, dan menyadari betapa diberkatinya kita karena telah menerima kebenaran yang berharga ini.

Saat mempelajari Alkitab, fokuslah pada kehidupan kekal

Alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan adalah dunia yang tak terbatas. Jika Anda menghitung satu bintang per detik, Anda membutuhkan lebih dari 6.000 tahun untuk menghitung semua bintang di galaksi kita saja. Selain itu, ada sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta; angka ini hanya memperhitungkan jumlah bintang yang telah ditemukan oleh para ilmuwan hingga saat ini. Jika kita mempertimbangkan bintang-bintang yang masih belum ditemukan, jumlah bintang di alam semesta ini jumlahnya tak terhitung dan tak terbatas.

Dari sudut pandang yang berbeda, satu detik di dunia kita setara dengan 300 triliun tahun di dunia mikroskopik. Menurut para ilmuwan, bumi berusia sekitar 4,5 miliar tahun, dan alam semesta sekitar 15 miliar tahun. Secara relatif, 300 triliun tahun adalah waktu yang tampaknya tak terbatas.

Satu detik yang hanya sekejap mata di dunia manusia, sama seperti 300 triliun tahun di dunia mikroskopik. Dilihat dari sudut pandang molekul, dunia manusia adalah dunia yang tak terbayangkan di mana waktu seakan-akan tidak pernah berakhir. Demikian juga, dari sudut pandang dunia manusia, Kerajaan Tuhan di dunia rohani adalah tempat yang tak terbayangkan dan luar biasa yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Itulah sebabnya Tuhan telah memberikan Alkitab kepada kita. Sama seperti bintang-bintang yang jauh di alam semesta tidak dapat diamati tanpa teleskop, Kerajaan Sorga juga tidak dapat dilihat tanpa Alkitab.

Kita akan pergi ke sorga—dunia malaikat yang abadi, yang berlangsung “selama-lamanya” dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (Dan 7:18). Kita, umat manusia, ditakdirkan untuk mati, dengan dibatasi oleh ruang dan waktu. Untuk menuntun kita ke Kerajaan Sorga yang abadi, Tuhan telah lama merindukan untuk memberi kita hidup yang kekal.

Hanya Tuhanlah yang bisa memberi hidup yang kekal kepada kita. Oleh karena itu, Tuhan yang menulis Alkitab, datang sendiri ke bumi ini untuk memberi kita hidup yang kekal—karunia terbesar di atas segala karunia.

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yoh 5:39-40

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yoh 10:10

Yesus menunjukkan tujuan dari Alkitab dengan jelas. Ada orang yang menganggap Alkitab hanya sebagai buku yang mengajarkan moral dan etika. Namun, peran Alkitab yang paling penting adalah untuk membantu kita menemukan hidup yang kekal. Itulah sebabnya kita harus fokus pada kehidupan kekal saat mempelajari Alkitab.

Jika kita tidak menganggap firman Tuhan sebagai sesuatu yang mutlak, kita tidak akan pernah bisa menerima hidup yang kekal. Untuk menerima hidup yang kekal, kita harus mengenal Tuhan dengan benar terlebih dahulu dan kemudian datang kepada-Nya. Karena orang Yahudi tidak percaya Alkitab, mereka tidak dapat mengenal Tuhan yang telah datang kepada mereka. Dengan mata yang penuh keraguan, mereka menolak Yesus yang telah datang dengan tubuh manusia dan akhirnya melakukan dosa dengan menyalibkan-Nya.

Tuhan menetapkan perjanjian baru untuk memberi hidup yang kekal kepada kita

Bagian terakhir dalam Alkitab menyimpulkan bahwa kita tidak boleh menambahkan atau mengurangkan sesuatu dari firman Tuhan—sumber kehidupan kekal.

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Why 22:18-19

Firman di atas menunjukkan jika kita menambahkan atau mengurangkan sesuatu dari ajaran Alkitab, kita tidak hanya akan menerima malapetaka, tetapi juga kehilangan hak istimewa untuk masuk ke Kerajaan Tuhan. Artinya, kita harus menaati setiap ajaran Alkitab persis seperti yang tertulis.

“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Yoh 13:15

Yesus sendiri telah memberikan teladan tentang cara untuk menerima hidup yang kekal tanpa menambahkan atau mengurangkan sesuatu dari firman Alkitab. Di antara teladan-teladan Kristus, mari kita lihat Yesus merayakan Paskah.

Maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”… Maka berangkatlah mereka dan mereka mendapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.” Luk 22:7-15

Yesus dan kedua belas rasul telah melakukan banyak pekerjaan besar. Di antaranya, Paskah adalah salah satu bagian terpenting dan penuh berkat yang tercatat dalam keempat Injil. Kita harus memperhatikan catatan tentang Paskah dengan saksama karena Paskah adalah teladan Kristus.

Petrus, Yohanes, dan semua murid lainnya merayakan Paskah; tidak ada seorang pun dari mereka yang menolak Paskah dengan mengatakan, “Kita tidak usah merayakannya.” Selain itu, yang ingin merayakan Paskah dan memerintahkan para murid untuk mempersiapkannya adalah Yesus sendiri. Tujuan Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menebus umat manusia dari dosa dan menuntun mereka ke jalan keselamatan yang abadi. Jadi, kita dapat memahami bahwa Yesus sangat rindu merayakan Paskah karena Paskah sangat berkaitan erat dengan keselamatan kita.

Perjanjian baru ditetapkan pada perjamuan kudus Paskah melalui firman janji Yesus yang mengatakan bahwa roti dan anggur Paskah adalah tubuh dan darah-Nya.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” Luk 22:19-20

Ada alasan mengapa Yesus berfirman, “Aku sangat rindu makan Paskah ini.” Karena hidup yang kekal diberikan kepada siapa pun yang makan daging dan minum darah Yesus (Yoh 6:54), Dia ingin memberi hidup yang kekal kepada seluruh umat manusia melalui perjanjian Paskah.

Paskah perjanjian baru adalah kebenaran yang ditetapkan melalui daging dan darah Kristus yang berharga untuk menyelamatkan orang-orang berdosa yang ditakdirkan untuk mati selamanya. Melalui nabi-nabi di zaman Perjanjian Lama, Tuhan telah mengizinkan seluruh umat manusia untuk memahami betapa pentingnya perjanjian baru.

Kehendak Tuhan dalam menetapkan perjanjian baru

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,… Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Yer 31:31-34

Umat Tuhan harus memiliki hukum perjanjian baru di dalam hati mereka. Tuhan berjanji, “Aku akan menjadi Tuhan mereka yang menaati perjanjian baru; Aku akan mengampuni semua dosa mereka yang menuliskan perjanjian baru di dalam hati mereka.” Meskipun terkadang manusia membuat janji dan tidak menepatinya, Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Karena Tuhan berjanji untuk mengampuni dosa-dosa kita hanya melalui perjanjian baru, orang-orang yang tidak berada di dalam perjanjian baru tidak dapat diampuni. Oleh karena itu, tanpa merayakan Paskah, tidak akan ada pengampunan dosa. Tanpa pengampunan dosa, tidak akan ada hidup yang kekal, dan jika tidak ada hidup yang kekal, maka tidak ada Kerajaan Sorga. Itulah sebabnya Yesus menetapkan Paskah sebagai perjanjian baru dan sangat rindu merayakannya.

Meskipun demikian, ada orang yang menganggap Paskah sebagai hukum yang hanya ada dalam Perjanjian Lama dan bersikeras bahwa kita tidak perlu merayakan Paskah meskipun Yesus sangat rindu merayakannya. Melihat tuntutan mereka untuk tidak merayakan Paskah, apakah kita bisa mengatakan bahwa mereka benar-benar percaya kepada Yesus? Meskipun mengaku percaya kepada Yesus, mereka menolak kebenaran keselamatan yang Dia bawa untuk seluruh umat manusia. Mengenai orang-orang seperti itu, Alkitab berkata, “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia,” (Tit 1:16). Jadi, bagaimana mereka dapat menyebut diri mereka sebagai gembala-gembala atau bahkan orang Kristen yang benar?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Mat 7:21-23

Melalui firman Yesus, “Aku sangat rindu makan Paskah ini,” kita dapat memastikan bahwa merayakan Paskah adalah kehendak Tuhan. Setan tidak suka ketika kehendak kudus Tuhan diberitakan di seluruh dunia. Kita dapat melihat dengan jelas di pihak siapakah orang-orang berdiri ketika mereka memfitnah kebenaran perjanjian baru, yang ditetapkan untuk kebahagiaan seluruh umat manusia, dan menyerang Tuhan tanpa henti melalui teori-teori mereka yang dibuat-buat dan tidak masuk akal.

Pada hari Penghakiman, ketika mereka berseru kepada Yesus, “Tuhan, Tuhan!” Dia akan berkata kepada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Firman ini menunjukkan bahwa mereka tidak akan mendapat bagian dalam Yesus.

Paskah perjanjian baru disahkan Tuhan sebagai kebenaran yang membawa keselamatan. Setelah banyak darah pengorbanan orang kudus ditumpahkan sepanjang zaman Kegelapan, Tuhan memulihkan Paskah—kebenaran di atas segala kebenaran. Dengan memahami hal ini, kita tidak boleh berhenti memberitakan kebenaran ini meskipun ada banyak orang yang menentangnya.

Rayakan dan beritakanlah perjanjian baru

Masih ada banyak orang di dunia ini yang masih belum tahu tentang perjanjian baru. Mari kita beritakan Paskah sebanyak mungkin kepada keluarga, tetangga, dan kenalan yang ada di sekitar kita. Karena Paskah mengandung janji keselamatan dari Tuhan bagi seluruh umat manusia, kita harus memberitakan janji ini kepada semua orang di seluruh dunia.

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. 1 Kor 11:23-26

Di ayat ini, apa yang Rasul Paulus beritakan kepada orang-orang kudus di Gereja awal? Kebenaran Paskah yang ditetapkan oleh Yesus, dengan berkata, “[Roti] inilah tubuh-Ku… Cawan ini [anggur] adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku.” Paulus berkata bahwa apa yang ia sampaikan kepada mereka adalah perintah dari Tuhan—bukan pendapatnya sendiri, dan ia menyebut dirinya sebagai “pelayan dari suatu perjanjian baru,” (2 Kor 3:6).

Kita merayakan Paskah perjanjian baru, berjalan di dalam ajaran Bapa dan Ibu Sorgawi, dan melayani Mereka. Karena kita memiliki hukum perjanjian baru di dalam hati kita, Tuhan mengakui kita dengan berkata, “Kamu adalah umat-Ku,” dan sebagai gantinya, Mereka menjadi Tuhan kita. Hanya umat Tuhan yang bisa masuk ke Kerajaan Sorga. Kepada anak-anak-Nya yang tinggal di dalam perjanjian baru, Tuhan juga telah memberikan janji yang penuh kasih karunia untuk membuat semua malapetaka melewati mereka pada Penghakiman Terakhir.

Tuhan mengaruniakan kita kewarganegaraan sorgawi melalui Paskah perjanjian baru, yang menuntun kita kepada keselamatan dan hidup yang kekal. Marilah kita semua memberitakan kasih karunia Tuhan yang luar biasa ini dari Samaria dan sampai ke ujung bumi. Meskipun nabi-nabi palsu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti, “Paskah bukanlah kebenaran yang membawa keselamatan,” kita tidak boleh tertipu dan harus bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang Kristus. Ketika kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Alkitab, kita bisa menyadari bahwa logika mereka itu salah dan ajaran mereka tidak berdasarkan Alkitab. Saya sungguh-sungguh meminta semua saudara-saudari di Sion untuk rajin memberitakan Paskah perjanjian baru—kebenaran yang membawa keselamatan. Marilah kita selalu bersyukur kepada Bapa dan Ibu Sorgawi yang telah menjadikan kita umat Tuhan melalui perjanjian baru dan menuntun kita di jalan yang mulia menuju Kerajaan Sorga.