WATV.org is provided in English. Would you like to change to English?

Konsili Nicaea dan Arianisme

129 Jumlah tampilan
FacebookTwitterEmailLineKakaoSMS

Pada tahun 325 M, Konsili Nicaea telah diadakan dengan tujuan utama untuk menyelesaikan perselisihan terhadap Arianisme dan perayaan Paskah. Perselisihan tersebut menyebabkan banyak pertumpahan darah yang menjadi sisi gelap dalam sejarah.

Tuntutan Arius

Arius memegang jabatan penting sebagai penatua di dalam gereja Aleksandria di Mesir. Dia menggiring opini publik dengan menuntut sebuah doktrin yang aneh sebagai berikut:

  1. Kristus adalah jelmaan dari Logos (λóγoς dalam bahasa Yunani, berarti “Firman” atau “Kebenaran”).
  2. Kristus mampu berubah dan menderita.
  3. Oleh sebab itu, Logos itu bisa berubah dan tidak setara dengan Tuhan.

Berdasarkan tuntutan Arius, Yesus bukanlah Tuhan tetapi hanyalah suatu ciptaan Tuhan, jadi dia tidaklah kekal; sama seperti Sang Anak yang merupakan ciptaan awal dari Tuhan Bapa, Roh Kudus adalah ciptaan awal Tuhan Anak.

Arius adalah seorang propagandis yang ahli yang menggunakan kemampuan membujuk untuk menyampaikan ajarannya melalui pujian dan nas Kitab Suci yang dapat diterima dan diingat orang-orang dengan mudah. Ajarannya menyebar dengan luas dan bahkan dinyanyikan oleh orang-orang biasa seperti nelayan.

Kemudian Alexander, uskup dari Aleksandria, mengadakan sebuah konsili untuk mengutuk dan mengasingkan Arius. Setelah diasingkan dari Aleksandria, Arius melakukan perjalanan menuju Palestine, menggalang dukungan dari para uskup Timur lainnya.

Karena sejumlah uskup dan para pemimpin kekristenan telah diyakinkan oleh Arius, permasalahan sesungguhnya dimulai. Kepercayaan lama mengenai keilahian Kristus yang telah diturunkan dari zaman para rasul, mulai ditantang oleh Arius. Pandangan Arius tersebar di antara orang-orang dan rohaniwan Aleksandria, dan Arianisme menjadi masalah yang mendunia.

Konsili Nicaea

Pada tahun 325 M, Kaisar Roma Konstantinus yang menyebut dirinya sebagai “pelindung dari gereja,” memanggil semua uskup Kristen ke Nicaea untuk menyelesaikan perselisihan mengenai Paskah dan Arianisme. Semua biaya yang dikeluarkan selama konsili berlangsung dibiayai oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran.

Pada saat itu, ada seorang pejuang iman hebat yang melawan Arius. Namanya adalah Athanasius, yang merupakan seorang Yunani dari Aleksandria. Athanasius sangat menentang pada doktrin Arius, menuntut bahwa Kristus sama dengan Tuhan.

Ada dua puluh pendukung Arianisme di antara lebih dari 300 uskup yang menghadiri Konsili Nikea. Kaisar Konstantinus memerintahkan mereka untuk membuat sebuah doktrin “kredo-kredo” yang akan dipatuhi dan diikuti oleh semua orang Kristen—sebuah doktrin yang disebut juga dengan “Kredo Nicaea,” yang menyatakan bahwa Tuhan dan Yesus Kristus adalah sama. Konstantinus memerintahkan kepada semua uskup untuk menandatangani kredo tersebut, lalu ia turun tangan untuk mengancam siapa saja yang tidak menandatangani kredo tersebut lalu mengasingkannya, dan dianggap sebagai ajaran sesat. Di Konsili Nicaea, Arianisme telah dikutuk dan Arius diasingkan ke Ilirikum, bersama dengan dua uskup dari Libia—Teonas dan Sekundus—yang menolak untuk menandatangani kredo tersebut.

Kembalinya kalangan Arian

Setelah dua tahun berlalu, Arius menyatakan bahwa dia telah bertobat. Lalu dia dan para uskupnya yang telah dikucilkan bersama dia kembali ke gereja. Setelah kembali dari pengasingan, mereka dengan diam-diam memperluas pengaruh mereka, sambil mengajarkan doktrin mereka, lalu mereka mulai membalas lawan mereka.

Mereka menuntut lawan mereka atas pelanggaran susila atau fitnahan terhadap Helena yang merupakan ibu dari Kaisar Konstantinus. Setelah itu, mereka juga menyerang Athanasius, uskup dari Aleksandria, dan mengirimnya ke pengasingan.

Kaisar yang mendukung Arianisme

Arius meninggal pada tahun 336 M, dan pada tahun berikutnya Konstantinus meninggal. Pengikut dari Arius mempropagandakan doktrinnya dan memperluas pengaruh mereka secara bertahap. Pada saat itu, Kekaisaran Roma dipimpin oleh ketiga anak Konstantinus: Konstantinus II (barat), Konstans (tengah), dan Konstantius (timur). Oleh karena Konstantinus II mendukung doktrin Nicaea, dia menarik kembali Athanasius dari pengasingannya. Konstans juga mendukung para penganut doktrin Nicaea dan Athanasius, tetapi Konstantius berbeda; dia mendukung para Arian karena dia merupakan pemimpin kekaisaran bagian timur, yang sangat kuat dipengaruhi oleh Arianisme.

Tidak lama setelah itu, Konstantinus II meninggal sehingga Konstans menjadi satu-satunya pemimpin di daerah kekaisaran bagian barat. Sepuluh tahun kemudian, Konstans dibunuh, dan seluruh kekaisaran Roma dipersatukan di bawah pemerintahan Konstantius yang memerintah kekaisaran bagian timur. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Konstantius adalah seorang pendukung Arianisme. Jadi, seluruh kekaisaran berada di bawah pemerintahan kekaisaran Arian, yang memaksa seluruh uskup untuk menerima kredo Arian yang berpendapat bahwa Sang Anak berbeda dengan Bapa. Liberius, uskup di Roma, juga menerima kredo baru ini sebelum dia diasingkan.

Kaisar Yulianus, seorang penganut paganisme

Beberapa waktu berlalu, tentara Roma yang telah ditempatkan dekat Paris tidak menaati titah Kaisar Konstantius dan memberontak melawannya, dan mereka menyatakan pemimpin mereka Kaisar Yulianus. Akan tetapi, Konstantius meninggal sebelum keduanya berhadapan di medan perang. Jadi, Yulianus menjadi Kaisar Roma. Dia adalah keponakan dari Konstantinus, tetapi dia tidak percaya pada kekristenan. Sebaliknya, dia mengabdi kepada Misteri Eleusis dan mencoba untuk memulihkan agama pagan kuno. Dia juga mempersembahkan korban kepada dewa pagan di bawah kekuasaannya sebagai Pontifex Maximus (imam besar dalam kepercayaan Roma kuno—seorang perantara antara dewa-dewa dan manusia; sejak dahulu kala, Kekaisaran Roma telah melayani sebagai imam besar dewa matahari; lalu Konstantinus serta anak-anaknya menggunakan kekuasaannya sebagai Pontifex Maximus untuk campur tangan dalam permasalahan-permasalahan gerejawi).

Yulianus mengambil sebuah kebijakan untuk memperlakukan semua agama dengan adil. Lalu kepercayaan pagan dihidupkan kembali dan jumlah pengikutnya mulai bertambah. Dia memanggil kembali semua uskup yang diasingkan oleh Konstans ke kursi jabatan mereka dengan tujuan untuk memupuk perpecahan di antara mereka; tujuan utama dia adalah untuk memecah kekristenan. Menyadari hal ini, bagaimanapun juga, para uskup dari seluruh wilayah kecuali Afrika bergabung bersama untuk menentang Yulianus dan paganisme.

Kekacauan dalam Kekaisaran Roma dan jatuhnya bangsa Arian

Ketika Yulianus meninggal, ia digantikan oleh Yovianus, seorang Kristen. Semua penerusnya juga adalah seorang Kristen, dan mereka juga menerima kedua paham baik Kredo Nicaea maupun Arianisme. Tetapi pada pertengahan abad ke-5, Kekaisaran Roma melemah dengan cepat karena suku Goth datang dari utara; Mereka menyerang ke dalam Kekaisaran Roma, dan mereka membagi wilayah-wilayah dan menguasainya. Pada saat itu, banyak pemimpin Kristen telah ditawan, lalu mereka menginjil kepada suku Goth. Beberapa orang Kristen bahkan dengan sukarela pergi ke antara suku Goth untuk menginjil kepada mereka. Para pengikut dari Arianisme menyebarkan kekristenan Arian di antara Heruli, Vandal, dan Ostrogoth. Meskipun demikian, ketiga suku tersebut dihancurkan satu demi satu oleh Kepausan.

Akibat dari Kredo Nicaea dan Arianisme

Setelah itu, Kredo Nicaea telah diresmikan. Paham “Trinitarianisme” Nicaea ini telah diterima sebagai dasar kepercayaan Gereja Katolik Roma yang membawa ke zaman Kegelapan, dan juga oleh banyak gereja Protestan yang muncul setelah Reformasi. Tetapi masih ada beberapa denominasi seperti Saksi Yehovah yang menyangkal keilahian Kristus, menuntut bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak tidaklah sama. Mereka dapat disebut sebagai “Arian modern.”

Batasan dari Kredo Nicaea

Walaupun Konsili Nicaea menolak Arianisme dan menganut Kredo Nicaea menyatakan bahwa Sang Anak adalah satu dengan Bapa, kredo ini tidak mendekati inti dari “Tritunggal.” Kredo Nicaea menyatakan konsep bahwa “Tuhan Bapa adalah Tuhan Anak” dengan mendeskripsikan “Kristus Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa” atau sebagai “satu unsur dengan Tuhan Bapa,” namun konsep ini sangatlah samar-samar. Itulah mengapa banyak dari orang Kristen dan bahkan para teologi sekarang ini, yang mengaku percaya pada Tritunggal, tidaklah mudah untuk menerima fakta bahwa “Kristus Yesus adalah Tuhan,” walaupun mereka mengakui bahwa “Yesus adalah Anak Tuhan.”

Jadi, beberapa gereja memberitakan doktrin-doktrin aneh seperti: “Tuhan Anak dianggap sama dengan Tuhan Bapa karena Tuhan Anak dapat melakukan hal yang sama dengan Tuhan Bapa.”

Kurangnya pengetahuan tentang Alkitab telah menimbulkan banyak doktrin salah yang mirip dengan ajaran Arian, yang menekankan kemanusiaan Kristus. Hal tersebut justru telah menyebabkan orang-orang menyatakan keilahian Kristus itu salah dengan menafsirkan Alkitab dengan cara mereka sendiri.

Selain itu, tidak ada pernyataan yang jelas mengenai Roh Kudus dalam Kredo Nicaea. Jadi, sejak adanya Konsili Nicaea, gereja-gereja Kristen mengajari istilah “Tritunggal” sendiri hanya sebagai sebuah doktrin teologi saja. Jadi, mereka bahkan tidak menyadari inti dari Alkitab dan gagal untuk mencapai pemahaman Alkitab mengenai fakta bahwa “Tuhan Bapa adalah Tuhan Roh Kudus,” dan “Tuhan Anak adalah Tuhan Roh Kudus.”

Tritunggal, Kebenaran Alkitab

Tritunggal bukan hanya sebuah teori yang dapat diterima atau ditolak sebagai sebuah doktrin teologi saja, tetapi itu merupakan kebenaran Alkitab yang telah ditekankan sejak gereja awal. Kebenaran adalah ajaran Tuhan yang secara pribadi diajarkan kepada kita (Mi 4:1-2)—bukanlah suatu hal yang dihasilkan melalui perselisihan antara para teologi melalui dewan agama.

Iblis tidak pernah menginginkan kita untuk memiliki pengetahuan akan Tuhan. Karena ia tahu bahwa umat Tuhan akan dihancurkan jika mereka tidak mempunyai pengetahuan akan Tuhan (Hos 4:1-6), dia menyebarkan roh antikristus ke seluruh dunia. Mereka yang disesatkan olehnya menyangkal Tritunggal, atau bahkan jika mereka mengakui Tritunggal melalui mulut mereka, mereka masih menyangkalnya dalam hatinya. Mereka mempunyai iman yang suam-suam kuku.

Bagaimana kita dapat menghakimi suatu hal sampai Roh kebenaran datang (1 Kor 4:5)? Karena Ia telah datang dan menerangi apa yang tersembunyi dalam kegelapan, kita sekarang telah mengetahui pengetahuan akan Tuhan dan telah terlewat dari kebinasaan ke hidup.

“Mereka semua akan diajar oleh Allah (Yoh 6:45).” Berdasarkan janji Tuhan ini, kita telah menyadari firman kebenaran. Bersyukur kepada Tuhan yang selalu bersama dengan kita—sampai akhir zaman ini—sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, kita seharusnya mencurahkan seluruh kekuatan kita untuk memimpin semua orang di dunia menuju jalan keselamatan dengan menyampaikan pengetahuan Tuhan yang benar kepada mereka.